~:: Penulis Amatir ::~

Sebuah pemikiran sederhana tentang makna hidup

Name: Penulis Amatir
Location: Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia

Seorang pekerja di bidang teknologi informasi yang mencoba berpikir secara sederhana tentang makna hidup

Wednesday, June 27, 2007

Gandhi Famous Quotes

God is because Truth is.
To forgive and accept injustice is cowardice
There are 2 type of people in this world,
those that take the credit
and those that actually do the work.
Take my advise and follow the latter,
as there is a lot less competition there."
The things that will destroy us are:
politics without principle;
pleasure without conscience;
wealth without work;
knowledge without character;
business without morality;
science without humanity,
and worship without sacrifice.
There should be no occasion where a woman
considers herself subordinate or inferior to a
man..woman is the companion of man, gifted with
equal mental capacity.
You assist an evil system most effectively
by obeying its orders and decrees. An evil system
never deserves such allegiance. Allegiance to it
means partaking of the evil. A good person will
resist an evil system with his or her whole soul.
I do not want my house to be walled in on
all sides, and my windows to be closed. Instead, I
want the cultures of all lands to be blown about
my house as freely as possible. But I refuse to be
blown off my feet by any.

I have nothing new to teach the world.
Truth and non-violence are as old as the hills.
All I have done is to try experiments in both on
as vast a scale as I could.
Prayer is not asking. It is a longing of
the soul. It is daily admission of one's
weakness. . . . It is better in prayer to have a
heart without words than words without a heart.
What a man thinks, he becomes
A man is but the product of his thoughts; what he thinks, he becomes.

Conversion is meaningless
For inward satisfaction and growth, people change their religions. I am againts modern methods of conversion that people perform as if doing some business.

Real holy man
A holy man is one who never considers himself superior to any single creature on earth and who had renounced all the pleasures of life.

Simplicity of a leader..
Mahatma gandhi, a leader of India always travelled third-class in a train.
Somebody once asked, "You are a leader of this country, why do you travel third-class?" Mahatma Gandhi's reply was, "I travel third-class because there is no fouth-class."

Progress depends an not repeating the past
If we are to make progress, we must not repeat history but make new history.

When we make others happy, we too gain happiness
Happiness, the goal for which we are all striving, is reached by endeavouring to make the lives of others happy.

Man's greed
The world has enough for everyone's needs,
but never enough for even one man's greed.

Do not become a slave to desire
He, who is discontented, however much he possesses, becomes a slave of his desires. All the sages have declared from the housetops that man can be his own worst enemy as well as his best friend. To be free or to be a slave lies in his own hand.

The way that we treat animals measure our greatness
The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way it's animals are treated.

Women should not mimic men
I do believe that woman will not make her contribution to the world by mimicking or running a race with man. She can run the race, but she will not rise to the great heights she is capable of by mimicking man. She should recognise and develop her own unique qualities.

Woman's intuition is grave
Woman's intuition has often proved truer than man's arrogant assumption of knowledge.

Retaliation is not the solution
The policy of an eye for an eye will make the whole world blind.

Find yourself to lose yourself
The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others

Kisah orang-orang munafik!!

Sudah terlalu sering saya lihat termasuk dalam kaca, bahwa manusia cenderung untuk melihat dan mengoreksi orang lain tapi lupa mengoreksi diri sendiri. Saya tahu ada yang suka membincangkan seseorang entah itu kebaikannya, mauapun keburukannya (porsi 30:70) tapi jarang sekali orang membincangkan keburukannya (hanya kebaikannya saja). Dunia adalah panggung sandiwara, tempat banyak topeng-topeng dipasang di muka dalam sebuah panggung teater yang memainkan drama kehidupan. Orang yang tampak baik di depan kita, tetapi selalu mencemooh kala kita tiada. Orang yang mengaji mulutnya tapi tidak mengaji hatinya.

So what's the point,, go to hell ya al-munafikun!!!

Pemimpin tidak takut untuk mengambil keputusan!!

Mendengar berita akhir-akhir ini dimana kita dengar pak SBY hengkang dari Jakarta untuk "ngantor" di Sidoarjo hanya ingin memastikan ganti rugi benar-benar sampai ke rakyat patut di acungi jempol. Di tengah banyaknya protes para anggota DPR yang menentang keputusan presiden ini, tapi presiden akhirnya toh tetap tak bergeming dan melanjutkan keputusannya untuk datang ke Sidoarjo, demi melihat secara langsung pelaksanaan pembagian ganti rugi untuk korban lumpur lapindo.

Masih ingat Sutiyoso dengan busswaynya? kala itu masyarakat mencemooh (termasuk sayah), bahwa bussway itu ndak bakal menyelesaikan masalah macet di Jakarta, bukan merupakan transportasi yang efektif. Tapi semakin hari, bussway mendapat pujian, mampu mengurangi jumlah pengendara motor, menyediakan solusi transportasi murah, nyaman dan aman, ndak seperti metromini sialan itu, yang kerjaannya ngebut, kejar setoran, akhirnya berbuntut korban jiwa, ada yang ketabraklah, iri dapet setoran dikit dari yang lain trus main bunuh-bunuhan,, huh!!

Masih ingat Suharto dengan Repelita-nya? Indonesia kala itu menjadi negara swasembada pangan yang tidak mengimpor beras dari negara lain, meskipun pada akhirnya kesandung kasus korupsi. Tapi jasanya mesti kita inget disamping kesalahannya juga.

Gusdur? dibalik smua hal kontroversial yang terjadi dan ada padanya, rakyat etnis Thionghoa, merasa bahwa Gusdur adalah seorang pahlawan yang memperjuangkan kebebasan etnis Thionghoa ini?

Intinya adalah, seorang pemimpin harus tahu apa yang terbaik bagi orang yang dipimpinnya, setidak2nya dia punya satu misi diantara sekian misi yang harus di tanggung dalam pundaknya yang menjadi prioritas. Berani mengambil keputusan, tidak takut dengan cemoohan orang, toh pada akhirnya orang-orang yang mencemooh itu akan berbalik memuji keberhasilan mereka. Seorang pemimpin tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan, tapi dalam jejaknya pastinyalah ada sesuatu yang patut dibanggakan dan diingat dari mereka, dan inilah hasil keberanian mereka dalam mengambil keputusan!

Sunday, February 04, 2007

Month and personality

JULY=ATTITUDE

Outgoing personality. takes risks. feeds on attention. No self control.kind hearted. self confident. loud and boisterous. VERY revengeful.easy to get along with and talk to. has an "every thing's peachy" attitude. likes talking and singing.loves music. daydreamer. easily distracted. Hates not being trusted. BIG imagination. loves to be loved.hates studying. in need of "that someone".longs for freedom. rebellious when withheld or restricted. lives by "no pain no gain" caring.always a suspect. playful. mysterious. "charming" or "beautiful" to everyone. stubborn. curious. independent. strong willed. a fighter.

hmm,, beberapa point benar tapi ada juga yang salah,, but mostly it describe my personality ;-)

Rejeki nggak akan lari kemana

Saat ini saya sedang ikut merasakan kegembiraan yang dialami oleh teman saya atau lebih tepatnya senior dan kakak kelas saya yang juga teman sekosan selama masa kuliah dulu. Setelah 4 tahun berusaha mencari kerja dan selalu mendapatkan penolakan, akhirnya sekarang beliau mendapatkan pekerjaan. Sebuah subkontraktor yang bergerak dalam bidang per-telekomunikasian di Indonesia. Yah, sebagai startup untuk memasuki dunia kerja, saya rasa it's fine lah, secara beliau belum memiliki pengalaman kerja sebelumnya selain main WE, heheh. Rata-rata jebolan kosan tersebut memang 'qualified', dalam artian mendapatkan pekerjaan yang 'layak' pada akhirnya.Entah ini merupakan suatu kebetulan atau tidak, tetapi menurut saya teman yang sukses akan membawa imbas kepada teman yang lain. Karena kita akan termotivasi untuk mendapatkan kesuksesan dengan teman kita yang lain.

Masih teringat masa-masa kuliah ketika merasa sudah tidak ada lagi gunanya mengharapkan mimpi-mimpi yang saya renda untuk mendapatkan perusahaan impian lulusan kampus saya di karenakan ipk yang tidak mencukupi untuk pergi kesana, masih juga teringat detik-detik terakhir mananggalkan status mahasiswa di saat semua teman sudah lama meletakkan status itu jauh -jauh dari dompetnya, ktm atau kartu tanda mahasiswa yang biasa terselip dalam dompet tergantikan oleh name tag id pegawai kantoran. Semuanya lebih terkesan seperti dejavu, flashback ke masa yang lalu.

Setelah lulus dan sempat menganggur selama dua bulan, pada akhirnya saya di terima di sebuah perusahaan konsultan IT di bandung. Saat itu, perusahaan itu menjadi impian saya dengan modal yang saya miliki. Tempat kerja yang sejuk dan suasana bandung yang tenang membuat saya menikmati pekerjaan di sana. Tapi semenjak kedatangan teman-teman yang telah datang dari Jakarta, dan mendengar cerita kesuksesan mereka dan setelah melihat lebih jauh ke depan akan perkembangan karir dan gaji di sana maka mantaplah pilihan saya untuk menyatakan diri bahwa ini bukan jalan terbaik saya saat ini. Di sana masih terbentang luas kesempatan yang lebih besar dari ini. Maka saya bulatkan tekad untuk mencari kesempatan yang lebih baik itu.

Maka pada akhirnya setelah berjuang dengan tetesan air mata dan darah (halah,,) dan berkali-kali penolakan dan disertai dengan ancaman pemutusan hubungan kerja dengan tidak memperpanjang kontrak saya, akhirnya saya mendapatkan tempat yang lebih baik itu untuk saat ini. Memang, walaupun saya merasa 'lebih biasa' dibandingkan dengan teman-teman saya, mungkin saya kira bukan itu yang manjadikan saya termasuk orang yang beruntung di bandingkan dengan teman saya yang lain. Tetapi lebih karena Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik bagi setiap hamba-Nya. Bagaimana penderitaan-penderitaan saya di masa lalu Dia jadikan sebagai pemicu dan modal untuk kesuksesan di masa yang akan datang.

Apakah hal yang dapat saya pelajari? niat yang mulia dan doa dari orang-orang yang mencintai kita merupakan penyumbang terbesar atas kesuksesan kita. Yah, memang rejeki saya sudah ada yang mengatur, akhirnya saya mendapatkan tempat yang menurut saya sesuai dengan prinsip saya, doa, keinginan dan tekad saya, no banks and give the best for the local company. Terima kasih ya Alloh sudah mendengar dan mengabulkan doa saya.

Banjir dan PU dan bussway

Kaget ngeliat banjir terjadi dimana-mana di Jakarta ini. Kalau dulu ngeliat banjir cuman di tv, tapi sekarang ngerasain sendiri, walaupun secara tidak langsung, karena alhamdulillah kosan saya masih kering kerontang, belum kemasukan air, walaupun jalan-jalan sekitar kosan sudah tergenang oleh air. Sempet bingung juga sih, karena saya liat di berita-berita itu tiap lima tahun Jakarta pasti terserang banjir kayak gini yang sampai menenggelamkan rumah warga dan mengakibatkan macet di mana-mana, lalu lintas lumpuh. Peristiwa yang rutin tapi tidak pernah tersentuh sepertinya akar permasalahannya. Kalaupun menyerah karena Jakarta terletak di dataran rendah dan selalu mendapat limpahan air dari bogor, ya gimana caranya supaya hal itu bisa ditangani. Misalnya, apakah tidak ada alternatif lain selain membuat jalur irigasi dimana air dari bogor itu dapat didistribusikan ke tempat lainnya juga, sehingga tidak menyebabkan banjir? trus yang kedua, kenapa selalu menyalahkan bogor? kalau masalah drainase airnya ndak bagus ya sama saja. Proyek bussway miliaran rupiah bisa di bikin, tapi yang menyangkut kepentingan rakyat seperti ini hendaknya juga dipikirkan.

Mungkin kerangka berpikirnya adalah, proyek bussway ini bisa menghasilkan profit yang besar untuk pendapatan daerah, nah kalo kita nanganin banjir, emang untungnya buat pemerintah daerah apa? perbaikan drainase dan DAS (Daerah Aliran Sungai), so what gitu loh, toh nanti juga kering sendiri. Tapi kalo kita bisa lebih bijaksana, mungkin kita akan berpikir bahwasanya sehebat apapun infrastruktur yang kita bikin demi kelancaran kerja untuk mendapatkan lebih banyak pajak akan sia-sia, karena dengan banjir lalu lintas akan kacau dan hasilnya perdagangan terganggu, gimana mau jalan ke pasar kalo jalanan nggak bisa kepake? atau gimana mau masuk kantor kalo jalanan kek gitu?

PU sebagai departemen dalam pemerintah yang mengatur infrastruktur publik di negeri ini pastilah seharusnya yang merasa bertanggung jawab dengan masalah ini. Masak sudah tahu kalau peristiwa ini sering terjadi dan waktunya juga tahu antara bulan Desember - Februari, lha kok masih kejadian kayak gini sih? Belanda yang letaknya berada di bawah permukaan laut aja masih ndak kenapa-kenapa, kok Jakarta sampe tenggelam sih pak? Udahlah, bussway, subway, monorel adalah usaha pemerintah yang patut di acungi jempol, karena berusaha menuntaskan perkara macet yang bukan masalah sepele, tapi perbaikan DAS, selokan atau got atau drainase air ini juga harus dipikirkan, lha ngapain bikin bussway atau monorel kalo ndak bisa dipake karena jalanan banjir, apalagi mau bikin subway, walah, kayaknya kok terlalu muluk-muluk yo, nah nanti kalo bikin subway, apa di bawah sana ndak kebanjiran? trus 'kelelep' alias tenggelam dong subwaynya. Wis jan tenan ki Indonesia, ono-ono bae,,,

Wednesday, December 13, 2006

Cerewet lu ah,,,

Saya punya teman yang kalo sekali bicara seakan tidak akan pernah bisa berhenti, dan hebatnya lagi dia punya keterampilan yang membuat orang lain menjadi ikut 'cerewet' seperti dia. Entah itu anugrah dari yang di atas atau memang keterampilan itu timbul melalui mekanisme pelatihan? Yang pasti orang-orang cerewet seperti ini banyak yang suka atau malah tidak suka? Apa yang membuat kita suka? well, suasana menjadi meriah, seru dan tidak garing (tergambar suasana laba-laba menjaring sarangnya di rumah dekat kuburan dan terdengar suara jangkrik krik,, krik,, krik). Lalu yang bikin kita ilfil dengan orang seperti ini apa? kalo dia suka menceritakan diri sendiri, tidak mendengarkan orang lain, mendominasi pembicaraan, tukang gosip (ups,,), topik yang dibicarakan selalu itu-itu saja (kurang bahan pembicaraan om?), berusaha menunjukkan kalo dia paling pinter dan paling tahu segala-galanya (cape deeehh).

Tentunya akan sangat menyenangkan jika banyak hal yang bisa kita bicarakan, otomatis banyak pengetahuan yang bisa kita dapat dan sedikit banyak kita bisa terhibur sejenak karena bisa sedikit melupakan kelelahan kita di hari itu. Tapi akan sangat tidak menyenangkan jika apa yang dibicarakan topiknya selalu sama. Ada seorang teman yang selalu berbicara tentang petualangannya dengan beberapa wanita, yang menurut saya kurang meyakinkan, kok bisa, tampang lo itu loh, kok mau ya cewek-cewek itu sama lo, jangan-jangan lo pake pelet lagi?? Ada juga yang suka bergosip, membicarakan orang lain, padahal teman ini adalah orang yang paling dekat dengan saya, mungkin sejak jaman kuliah dulu. Tapi sepertinya penilaian saya agak berubah tatkala saya mulai berpikir, apa yang dikatakannya tentang saya di belakang saya dengan teman-temannya yang lain? Ada juga yang berasa seperti seorang jagoan, mengerti segala sesuatunya, hingga terkesan pamer, ada yang mendominasi pembicaraan, sehingga tidak mengindahkan kehadiran teman-temannya.

Hmmm, ternyata kalo ditilik lebih jauh, banyak bicara identik dengan 'kejahatan', semakin banyak orang yang dilukai, karena semakin banyak bicara maka akan semakin banyak kata-kata yang 'keselip' atau dalam bahasa indonesia-nya, terlepas begitu saja tanpa kita pikir lebih lanjut sehingga banyak orang lain yang tersakiti. Nah kalo udah begini gimana? tentunya saya memilih aksi diam, daripada berbicara.

Saturday, December 02, 2006

Google dan ketenaran

Tadi siang ketika makan di salah satu tempat makan kelas warteg di sebelah kantor saya bertemu dengan salah seorang karyawan dari kantor yang sama. Kami berbicara banyak mengenai masalah sekolah, pekerjaan dan lain-lain, hingga berujung kepada pembicaraan mengenai salah seorang VP di kantor (VP sayah) yang katanya 'terkenal' di google.

Iseng-iseng setelah tiba di kantor saya mencoba untuk searching dengan kata kunci nama VP saya tersebut. Lumayanlah, namanya cukup di kenal, di samping mungkin namanya unik kali ya, juga dia lumayan aktif di berbagai kegiatan maupun forum. Lalu tibalah saya mencoba untuk melakukan pencarian dengan menggunakan nama saya. Dan ternyata oh ternyata, nama saya juga tak kalah populernya dibandingkan dengan nama VP saya yang unik tadi, tapi kok sepertinya bukan saya? saya yang hanya seorang programer kok beralih profesi jadi dokter kejiwaan.

Wah, berarti saya tampaknya kurang terkenal nih di dunia maya. Tapi setidaknya saya sudah mendapat tempat di forum-forum yang berhubungan dengan IT, walaupun sebagai pemula atau newbie, bukan seorang ahli. Hmm, akankan menjadi obsesi saya berikutnya, menjadi terkenal di google dengan level yang lebih tinggi, menjadi seorang yang diakui? kita lihat saja nanti....

Thursday, November 30, 2006

Smackdown menebar maut

Saya sempat tertawa ketika mendengar berita tentang meninggalnya seorang bocah di Bandung akibat di"Smackdown" oleh temannya, bahkan ada bocah di Tangerang yang kakinya patah dan tidak bisa masuk sekolah karena kakinya harus di gips selama satu bulan, bahkan sempat diadakan razia atau penyitaan terhadap barang-barang yang 'berbau' smackdown. Berita yang harusnya tragis menjadi seperti humor bagi saya. Bagaimana dulu ketika masa-masa kuliah saya sempat juga bermain smackdown dengan teman-teman kosan satu rumah, tapi hanya sampai 'piting-pitingan' alias main kunci kaki dan tangan sehingga lawan tidak bisa bergerak, atau kadangkala kita juga main 'timpa', ketika ada satu orang terbaring maka teman-teman yang lain akan menimpa teman tadi, bertumpuk-tumpuk.

Tapi apa yang dilakukan oleh bocah-bocah tersebut terlewat parah, mereka tidak menyaring adegan-adegan dari televisi, mana yang berbahaya atau aman untuk dilakukan. Mereka hanya menirukan setiap adegan yang ditayangkan oleh salah satu televisi swasta dan ternyata berakibat fatal.

Lalu kalau sudah begitu siapa yang harus bertanggung jawab? pihak televisikah? orang tuakah? atau pemerintahkah? yang pasti ketiga komponen tadi harus bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut tanpa harus menyalahkan satu sama lain.

Orang tua, harusnya orang tua mampu memberikan pengarahan kepada anak-anaknya mana tontonan yang bisa mereka lihat atau hal-hal dari televisi yang bisa dan tidak bisa dilakukan. Tapi terkadang orang tua selalu merasa sibuk dan tidak punya waktu untuk anaknya, lalu kalau sudah begini bagaimana? mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk biaya perawatan anak-anak korban smackdown ini.

Televisi, betapa saat ini televisi memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan informasi. Dalam bisnis, terutama hiburan, keuntungan atau uang adalah hal utama yang harus dikejar, tapi bagaimana jika harus bertolak belakang dengan moril dalam menjalankan bisnis tersebut, dimana bisnis yang dijalankan bisa membawa 'berkah' atau manfaat bagi orang lain? Dalam dunia industri hiburan, kita mungkin seringkali mendengar istilah rating. Nah, biasanya rating ditentukan oleh penonton setelah dilakukan poling. Lalu, sebenarnya siapakah yang bertanggung jawab untuk 'filtering' tayangan-tayangan tersebut, karena ternyata para penonton sangat menggemari tayangan-tayangan yang dicap oleh sebagian (sebagian?) orang sebagai suatu tayangan yang tidak mendidik, dan ternyata penonton-penonton tersebut adalah para orang tua.

Pemerintah, entahlah, saya sepertinya lebih memilih untuk tidak memberikan komentar bagi unsur ketiga ini, tapi apa boleh buat? seharusnya pemerintah memberikan aturan yang tidak membiarkan pers begitu bebas memberikan muatan-muatan berita yang bisa menimbulkan efek-efek negatif seperti di atas. Dilematis memang, ketika akan membuat aturan-aturan tentang konten yang akan pers muat, buru-buru pers memberi cap pemerintah melanggar kebebasan pers, tapi kebebasan yang mereka dapatkan mereka salah gunakan. Jika begini keadaannya, maka yang paling bertanggung jawab terhadap kasus ini adalah dewan-dewan pers yang merasa kebebasannya dibatasi oleh pemerintah.

Saturday, October 28, 2006

Keluarga VS Karir

Kemarin saya jalan-jalan di sebuah mall di Jakarta di kawasan kuningan. Rencana ingin menghibur diri sendiri dengan membeli beberapa dvd untuk menemani saya di weekend, karena kos masih sepi ditinggal si empunya yang mudik ke kampung halaman masing-masing. Dan saya adalah si empu salah satu kamar kos yang tidak bisa ikut mudik karena belum mendapatkan cuti dan harus stand by untuk sebuah proyek. Akhirnya saya membeli DVD film Click yang sudah tayang di bioskop beberapa waktu lalu.

Sebenarnya sedikit ketinggalan rasanya saat saya harus membahas sebuah film yang di bintangi oleh Adam Sandler ini, karena sudah diputar di bioskop bulan lalu. Berawal dari karirnya sebagai seorang arsitek, yang dikaruniai seorang istri cantik dan dua anaknya. Dia tidak puas dengan kehidupannya saat ini, begitu banyak yang harus dia kerjakan, sementara pekerjaannya menyita hampir seluruh waktunya untuk bisa berkumpul dan bersantai dengan keluarganya. Alhasil dia ingin sebuah alat yang bisa membantu dia untuk mendapatkan ritme kerja sesuai yang diinginkannya.

Ketika dia dalam keadaan kacau, akhirnya pergilah ia ke sebuah supermarket dan tiduran di sebuah tempat tidur pajangan. Lalu tiba-tiba ia melihat sudut ruangan masa depan. Hingga akhirnya muncullah pemikiran di kepalanya tentang semua permasalahannya dan kemungkinan ruang masa depan itu mampu membantunya. Lalu diapun masuk ke dalam ruang masa depan dan bertemu dengan profesor. Akhirnya profesor itupun memberikan sebuah remote control, sehingga dia bisa mengatur dia atau orang-orang disekitarnya untuk bisa bekerja sesuai dengan keinginannya.

Dengan remote control tersebut dia bisa memperlambat, mempercepat pekerjaan, bahkan melakukan pause atau mute sepertinya layaknya remote control untuk perkakas rumah tangga. Ketika semua terasa kacau, dia kemudian mempercepat waktunya / fast forward, sehingga keadaan kacau itu bisa cepat diselesaikannya. Misalnya untuk soal mandi yang bisa memakan waktu satu jam bisa dikerjakan hanya beberapa detik sehingga banyak hal yang bisa diselesaikannya.

Konflik mulai muncul manakala dia tidak bisa melewati waktu bersama dengan orang-orang yang disayanginya, bagaimana ayahnya meninggal, anaknya yang sudah dewasa maupun perceraiannya dengan istrinya hingga akhirnya tibalah saatnya mendekati kematian. Dia mengucapkan kata-kata terakhirnya kepada anak-anaknya, istrinya dan suami baru dari istrinya saat ini. Lalu mautpun menjemput...

Kemudian dia tiba-tiba bangun dari tempat tidur di supermarket tadi dan baru menyadari kalau semua itu hanyalah mimpi. Dan pada akhirnya ia kembali lagi kepada keluarganya serta berusaha memperbaiki kesalahan yang dibuatnya.

**Moral of the story :

#1. Begitulah kita, manakala kita tidak bisa menerima kenyataan, kita menginginkan kebahagian itu bisa diraih secepat mungkin tanpa harus bersusah payah untuk melewati setiap fase dari kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Padahal Tuhan mencoba untuk mendidik kita dari setiap langkah kehidupan kita, dari setiap kesulitan maupun kemudahan yang diberikan. Bukankah disetiap kesulitan ada kemudahan? perencanaan yang matang, kerja keras dan kreatifitas adalah kunci kita dalam meraih sukses, tentunya harus disertai dengan tawakal dan berserah sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

#2. Keluarga adalah segala-galanya, disaat jenuh dengan segala aktifitas kerja, keluarga menjadi tempat kita kembali untuk mendapatkan semangat baru sehingga bisa menjalankan kerja keesokan harinya dengan penuh semangat. Ingatlah kata ini, rumahku adalah surgaku, maka sudah selayaknya kita mendapatkan surga di dunia ini dengan merasa nyaman di tengah-tengah keluarga kita.

Selamat Idul Fitri 1427H

Saudaraku....
Selama ini, tak terasa, mulutku terlalu lancang dalam berbicara
Tanganku terkadang jahil
Kakiku juga suka salah dalam melangkah

Saudaraku....
Kesalahanku adalah dosa yang kulakukan padamu
Juga kesalahan yang pernah aku buat kepada-Nya

Di hari yang mulia ini....
Kumohon maaf padamu
Sehingga kaupun ikhlas untuk memberi maafmu kepadaku

Dan Tuhan...
Semoga Engkau panjangkan usiaku
Untuk bertemu lagi dengan bulan-Mu yang mulia
Ramadhan tahun depan..

Sunday, October 08, 2006

Agama Oh Agama

Hari ini saya bertemu dengan kawan lama, lebih tepatnya kawan SMP, yang sudah tidak bersua setelah kira-kira 9 tahun lamanya. Kabar terakhir saya dengar di sedang kuliah di LN sambil mengikuti ayahnya yang seorang diplomat yang sedang bertugas di sana. Rasa ingin ketemu pasti ada, tapi saya kecewa manakala setiap janji untuk bertemu selalu tidak ditepatinya, terlebih lagi sepertinya beliau ini menghindar ketika saya sebutkan nama-nama kawan yang akan bertemu juga dengan dia. Menurut saya sih dari dulu kita semua tidak ada masalah, kawan sekolah lebih seperti sahabat akrab karena saking sedikitnya murid dalam satu kelas. Bayangkan, satu kelas cuma ada lima sampai tujuh orang murid.

Rasa tidak enak muncul ketika kawan saya mengajak berbisnis. Terus terang saya agak enggan ketika ada tawaran bisnis datang, mungkin diakibatkan oleh pengalaman bisnis sebelumnya yang rata-rata kelas 'MLM' itu, apalagi mendengar cerita kakak yang tertipu oleh kawannya yang mengajak bisnis dengannya, dan cerita-cerita lain yang senada. Tapi saya mencoba untuk ber-positive thinking. Alhasil, saya mengikuti ajakannya untuk bertemu di Pasar Festival.

Kaget!! itulah kata pertama yang bisa saya ucapkan, sekarang dia bukan seperti orang yang pernah saya lihat ketika SMP dulu, berubahlah, dari segi fisik maupun pemikirannya yang sepertinya lebih dewasa, jauh dari kesan badung yang dulu saya kenal. Dan mulailah dia bercerita tentang bisnis, dan penyakit saya kambuh, terkantuk-kantuk ketika mendengarkan 'ceramah'.

Kemudian saya diajak ke suatu tempat, di daerah pondok kelapa untuk site survery tempat usaha dia, sambil menceritakan kegiatan bisnisnya. Dengan nada bicara yang lebih islami dia mencoba menceritakan proses bisnisnya. Saya terus terang senang dengan perkembangan dia, tapi agak sedikit curiga dengan suddenly change-nya.

Ketika habis sholat dhuhur, saya dihadapkan dengan kawannya dia yang membawa-bawa alquran. Entah kenapa saya agak sedikit curiga, kembali terlintas awal-awal masa kuliah ketika saya mengikuti kegiatan dengan metode serupa, yang ternyata saya ketahui bahwa kegiatan mereka itu jauh dari ajaran Islam. Mereka mengajak hijrah ke komunitas mereka yaitu Negara Islam Indonesia, mereka mengatakan bahwasanya shalat yang kita lakukan tidak sah karena negara kita belum melaksanakan Islam secara kaffah, mereka pandang melaksanakan shalat di negeri ini bagaikan melaksanakan shalat di kamar mandi yang bersandingan dengan kakus, menjijikkan dan najis. Disamping itu, harta orang lain adalah bagaikan harta rampasan perang yang halah untuk kita miliki, dan betapa terkejutnya ketika anggota-anggota mereka dikabarkan mencuri uang orang tua atau saudaranya. Dan waktu itu saya sempat diminta uang dengan alasan untuk mendirikan negara islam yang kita inginkan. Tapi alhamdulillah Tuhan berkehendak lain, saya dipertemukan oleh seseorang yang akhirnya bisa membawa saya keluar dari ajaran 'nyleneh' itu.

Akhirnya kecurigaan saya terbukti manakala saya menghubungi kawan saya yang lain, yang ternyata adiknya pernah diajak kawan lama saya itu untuk hijrah. Apakah mungkin kawan lama saya itu mengikuti kegiatan yang pernah saya ikuti? Langsung saya kabarkan teman-teman yang lain supaya berhati-hati terhadap ajakan-ajakan seperti itu. Dan saya hanya bisa mendoakan, semoga kawan saya itu diberi hidayah oleh Alloh SWT untuk kembali ke jalan yang benar, dan semoga doa saya di bulan yang mulia ini terkabul.

Moral of the story : sangatlah disayangkan manakala agama digunakan untuk menjustifikasi segala perbuatan untuk kepentingan seseorang atau kelompok tertentu.